Dua Cahaya
![]() |
| Oleh: H. Leonardy harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H. (Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu) |
Dalam kehidupan ini, manusia membutuhkan cahaya. Tanpa cahaya, mata tidak mampu melihat jalan. Tanpa cahaya, kita mudah tersesat dan salah melangkah.
Begitu pula dengan kehidupan hati.
Ada manusia yang matanya sehat, tetapi hatinya gelap. Ada yang memiliki banyak ilmu, tetapi tidak menemukan ketenangan. Ada yang memiliki banyak harta, tetapi jiwanya tetap merasa kosong.
Karena itu, kita membutuhkan dua cahaya: cahaya iman dan cahaya ilmu.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
اللَّÙ‡ُ Ù†ُورُ السَّÙ…َاوَاتِ ÙˆَالْØ£َرْضِ
"Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi." (QS. An-Nur ayat 35)
Cahaya yang pertama adalah cahaya iman.
Iman bukan hanya sesuatu yang kita ucapkan dengan lisan. Iman adalah cahaya yang hidup di dalam hati.
Ketika mendapat nikmat, iman mengajarkan kita untuk bersyukur.
Ketika mendapat ujian, iman mengajarkan kita untuk bersabar.
Ketika kehilangan sesuatu, iman mengajarkan kita untuk berkata, “Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi kita.”
Dan ketika doa belum juga dikabulkan, iman membuat kita tetap percaya bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan waktu.
Inilah cahaya iman.
Ia mungkin tidak membuat jalan hidup kita selalu mudah, tetapi ia membuat hati kita tetap kuat ketika melewati jalan yang sulit.
Cahaya yang kedua adalah ilmu.
Ilmu menerangi jalan agar kita tidak hanya memiliki semangat beribadah, tetapi juga mengetahui bagaimana beribadah dengan benar.
Ilmu mengajarkan kita tentang halal dan haram, tentang hak dan kewajiban, tentang adab dan akhlak.
Dengan ilmu, kita mengetahui bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki.
Tidak semua yang kita dengar harus kita sebarkan.
Tidak semua yang kita pikirkan harus kita ucapkan.
Dan tidak semua kesalahan orang lain harus kita ceritakan.
Ilmu membuat seseorang semakin mengenal Allah, dan semakin mengenal Allah seharusnya membuat hati semakin rendah hati.
Di sinilah tasawuf mengajarkan sesuatu yang sangat dalam:
Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin ia merasa dirinya bukan siapa-siapa.
Ia tidak sibuk mencari kemuliaan di hadapan manusia, karena hatinya sudah merasa cukup dengan kemuliaan di hadapan Allah.
Bayangkan sebuah perjalanan di malam hari.
Kita memiliki kendaraan yang bagus, tetapi tidak memiliki lampu. Kita memiliki tenaga, tetapi tidak dapat melihat jalan.
Begitu juga kehidupan.
Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan.
Iman adalah cahaya yang menerangi hati.
Ilmu tanpa iman bisa membuat seseorang merasa pintar tetapi sombong.
Iman tanpa ilmu bisa membuat seseorang memiliki niat baik tetapi keliru dalam melangkah.
Maka keduanya harus berjalan bersama.
Ilmu membimbing pikiran.
Iman membimbing hati.
Dan akhlak membuktikan keduanya.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa Allah melihat hati dan amal kita.
Maka jangan hanya memperindah penampilan, tetapi lupa memperindah hati.
Jangan hanya memperbanyak pengetahuan, tetapi lupa memperbanyak ketundukan kepada Allah.
Sebab pada akhirnya, yang kita bawa menghadap Allah bukanlah gelar, bukan jabatan, bukan harta, dan bukan pujian manusia.
Yang kita bawa adalah iman, amal, dan hati yang bersih.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah hati kita masih bercahaya?
Jika hati mulai mudah marah, mungkin kita perlu memperbanyak dzikir.
Jika hati mulai dipenuhi iri dan dengki, mungkin kita perlu memperbanyak istighfar.
Jika hati mulai mencintai dunia secara berlebihan, mungkin kita perlu mengingat kematian.
Dan jika hati mulai jauh dari Allah, jangan menunggu sempurna untuk kembali.
Pulang kepada Allah sekarang
Karena Allah tidak pernah jauh.
Kita yang terkadang menjauh.
Maka mari kita nyalakan kembali dua cahaya itu dalam kehidupan kita:
Cahaya iman di dalam hati, dan cahaya ilmu di dalam pikiran.
Semoga dengan dua cahaya itu, kita mampu berjalan di dunia tanpa kehilangan arah, menghadapi ujian tanpa kehilangan harapan, memiliki nikmat tanpa kehilangan syukur, dan menjalani kehidupan tanpa kehilangan Allah.
Semoga Allah menerangi hati kita dengan iman, menerangi langkah kita dengan ilmu, menghiasi kehidupan kita dengan akhlak, dan mengakhiri perjalanan kita dalam keadaan husnul khatimah.
Salam
LH
