Berikan Perhatian Ekstra Pada Cabor agar Atlet Sumbar Kembali Berprestasi
PADANG (SUMBARKINI.COM) — Setiap atlet tentu memiliki satu harapan ketika turun berlatih dan bertanding: memberikan yang terbaik untuk daerahnya. Namun, semangat dan kemampuan atlet tidak selalu cukup jika tidak dibarengi dukungan fasilitas, pembinaan, serta perhatian yang memadai.
Persoalan itulah yang menjadi perhatian Anggota DPRD Sumatera Barat, M. Yusuf Abit. Ia menilai peningkatan prestasi olahraga Sumbar perlu dimulai dari hal-hal mendasar, termasuk memastikan setiap cabang olahraga memiliki sarana latihan yang layak.
“Bagaimana atlet akan berprestasi jika mereka kurang mendapatkan perhatian. Sarana dan prasarana penunjang tidak memadai,” tegas Yusuf Abit, Senin, 7 September 2026.
Ia mencontohkan kondisi yang pernah ditemuinya dalam pembinaan cabang olahraga gulat. Atlet membutuhkan matras sebagai salah satu perlengkapan utama untuk berlatih teknik dan melakukan simulasi pertandingan.
Namun, menurut Yusuf, keterbatasan sarana dapat membuat proses latihan menjadi tidak optimal. “Bagaimana mereka akan mengembangkan teknik yang didapat dari latihannya jika matras saja kerasnya beradik kakak dengan semen,” ujarnya.
Yusuf mengetahui persoalan tersebut bukan hanya dari luar. Saat pernah memimpin cabang olahraga gulat Sumbar periode 2019-2023, ia berupaya mengusahakan bantuan matras untuk menunjang latihan para atlet.
Meski jumlah bantuan yang tersedia belum banyak, menurutnya, dukungan kecil sekalipun dapat memberikan arti besar bagi atlet yang sedang berjuang meningkatkan kemampuan.
Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan para atlet gulat Sumbar yang mampu menyumbangkan medali emas pada PON Papua.
Bagi Yusuf, capaian itu menunjukkan bahwa potensi atlet Sumbar sebenarnya ada. Ketika atlet mendapatkan perhatian, fasilitas yang lebih layak dan dukungan pembinaan, peluang untuk bersaing di tingkat nasional pun terbuka.
Karena itu, perhatian terhadap olahraga tidak seharusnya hanya muncul ketika atlet berhasil membawa pulang medali. Pembinaan justru harus dimulai jauh sebelum pertandingan. Dari tempat latihan, perlengkapan olahraga, kualitas pelatih, kesempatan mengikuti kejuaraan, hingga dukungan bagi atlet untuk menjaga kondisi fisik dan mental.
Sebab, di balik satu medali yang terlihat di podium, terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat: latihan berulang, jatuh dan bangkit, disiplin, pengorbanan waktu, serta dukungan banyak pihak.
Persoalannya kemudian bukan semata-mata apakah atlet Sumbar memiliki kemampuan untuk berprestasi, tetapi apakah ekosistem olahraga di daerah telah memberikan ruang yang cukup bagi kemampuan tersebut untuk berkembang.
Cabor juga membutuhkan perhatian yang proporsional sesuai karakter masing-masing. Kebutuhan atlet gulat tentu berbeda dengan atlet panahan, atletik, renang, bela diri, senam, maupun cabang olahraga lainnya. Karena itu, pemetaan kebutuhan setiap cabor menjadi penting agar dukungan yang diberikan benar-benar menjawab persoalan di lapangan.
Bagi masyarakat, pembenahan olahraga bukan hanya tentang mengejar peringkat dalam klasemen PON. Lebih jauh, olahraga adalah ruang pembentukan karakter generasi muda, kesehatan masyarakat, kebanggaan daerah sekaligus jalan bagi anak-anak berbakat untuk mengembangkan masa depan.
Atlet tidak hanya membutuhkan tuntutan untuk menang. Mereka juga membutuhkan keyakinan bahwa perjuangan mereka diperhatikan. Mereka akan tenang berlatih dan berprestasi jika pemerintah daerah bisa menjamin lapangan kerja yang mendukung prestasi mereka.
Dan mungkin, dari sebuah matras latihan yang layak, perjalanan menuju podium justru dimulai.
Ubah Paradigma
Jika yang menjadi kendala adalah anggaran terbatas, sementara jumlah cabor banyak, maka KONI sebagai mitra pemerintah harus membantu merumuskan kebijakan, mengoordinasikan induk organisasi cabang olahraga, serta mengelola dan mengembangkan prestasi atlet secara nasiona
"KONI harus tegas, harus berani mengambil keputusan untuk memprioritaskan cabor yang berprestasi untuk dibina lebih intensif dan membawa mereka ke pertandingan-pertandingan yang lebih tinggi tingkatannya. Harus ada skala prioritas," ujar Yusuf Abit.
Jangan gunakan pertimbangan moral dan emosional untuk mengikutkan cabor dan atletnya ke suatu ajang pertandingan /kejuaraan. Apalagi jika cabor yang tak berprestasi bagus itu atletnya banyak.
YusuvF Abit pun mengingatkan agar KONI lebih mampu menggalang dukungan dari kalangan dunia usaha, jangan hanya mengandalkan pemerintah. Pengurus KONI hendaknya punya jejaring luas, mempunyai jiwa marketing yang kuat. Kalau perlu punya entrepreneurship.
"Kalau bisa Ketua KONI itu orang yang bisa menggunakan dana pribadinya untuk menstimulasi dukungan pendanaan pihak lainnya. Jangan hanya bermodalkan kedekatan dan lebih bahaya lagi jika ada motivasi politis. Bahaya olahraga Sumbar. Tidak akan berkembang," pungkasnya tegas.
Dia pun meningatkan agar Dinas terkait dengan pembinaan olahraga ini punya visi untuk memajukan olahraga daerah. Mereka bisa memperjuangkan anggaran pembinaan hingga bonus atlet berprestasi. Bersama KONI hendaknya dinas mampu mengadakan pola pembinaan, kejuaraan berkesinambungan, regenerasi atlet dan mengevaluasinya.
"Jangan hanya pandai memanfaatkan dana hibah cabor untuk kegiatan mereka. Hibah ya harus diserahkan pengelolaannya kepada cabor terkati. Biar mereka mempertanggungjawabkan penggunaan dana hibah tersebut. Dinas mendampinigi, membina bukan yang mengelolanya,* tambahnya, (Zul Daan)
