Membaca Bung Hatta di Tanah Minangkabau: Ketika Sejarah Tak Sekadar Dikenang, tetapi Dipertanyakan Kembali
PADANG (SUMBARKINI.COM) — Apa jadinya jika sejarah tidak hanya dibaca dari buku, tetapi dihidupkan melalui musik, sastra, narasi dan panggung kebudayaan?
Pertanyaan itu terasa kuat dalam pagelaran naratif-musikal “Membaca Bung Hatta: Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau” yang digelar di Rumah Inspirasi H. Alex Indra Lukman, Kelurahan Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Minggu (30/8/2026).
Kegiatan yang digagas Wakil Ketua Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Barat, H. Alex Indra Lukman, tersebut menghadirkan pembacaan sejarah melalui pendekatan seni dan kebudayaan.
Penyusunan narasi sekaligus penyutradaraan dilakukan Edi Utama bersama Komunitas Talago Buni, dengan dukungan Yayasan Hatta. Salah satu bagian penting kegiatan tersebut adalah pidato politik Halida Nuriah Hatta, putri Proklamator Mohammad Hatta.
Namun, malam itu bukan sekadar tentang mengenang seorang tokoh.
Ada pertanyaan yang lebih besar: apa yang tersisa dari gagasan Bung Hatta ketika Indonesia memasuki zaman yang sama sekali berbeda?
124 Tahun Bung Hatta dan Ingatan yang Tak Boleh Putus
Tahun 2026 menjadi momentum 124 tahun kelahiran Mohammad Hatta, yang lahir pada 12 Agustus 1902.
Bagi Sumatera Barat, Hatta bukan sekadar nama yang tercatat dalam sejarah nasional. Ia merupakan bagian dari mata rantai panjang tradisi intelektual Minangkabau yang mempertemukan pendidikan agama, pendidikan modern, tradisi merantau, pemikiran kritis dan kesadaran kebangsaan.
Jejak tersebut tidak muncul secara tiba-tiba.
Kajian sejarah mencatat bahwa pendidikan Hatta dipengaruhi lingkungan keagamaan dan tradisi intelektual Minangkabau. Ia pernah menempuh pendidikan di Padang sebelum melanjutkan perjalanan pendidikannya ke Batavia dan kemudian Belanda. Pengalaman tersebut ikut membentuk pemikiran politik dan kebangsaannya.
Karena itu, membaca Hatta dari Sumatera Barat sesungguhnya berarti membaca salah satu bagian penting dari perjalanan intelektual yang ikut membentuk gagasan Indonesia.
Wali Kota Padang Fadly Amran menyampaikan kebanggaannya sebagai masyarakat Sumatera Barat, khususnya Kota Padang, yang memiliki keterkaitan sejarah kuat dengan Bung Hatta.
Menurut Fadly, sejarah Bung Hatta tidak semestinya berhenti sebagai cerita masa lalu. Perjalanan hidup dan nilai perjuangannya harus terus dipelajari, terutama oleh generasi muda.
“Sejarah Bung Hatta begitu kuat terukir di Kota Padang. Sudah sepatutnya kita mengenang kelahiran beliau, perjuangan beliau, serta nilai-nilai yang telah beliau ukirkan bagi bangsa dan negara,” demikian pesan Fadly dalam kegiatan tersebut.
Ia juga mengapresiasi gagasan menghadirkan kembali sejarah Bung Hatta melalui pendekatan seni dan kebudayaan.
Bagi Fadly, “Membaca Bung Hatta” menjadi momentum untuk merefleksikan kembali nilai perjuangan para pendiri bangsa.
Alex Indra Lukman: Jangan Berhenti pada Seremoni
Sementara itu, H. Alex Indra Lukman menegaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang bukan semata-mata sebagai peringatan terhadap sosok Proklamator.
PDI Perjuangan Sumatera Barat bersama Komunitas Talago Buni dan didukung Yayasan Hatta ingin menghadirkan ruang untuk membaca kembali perjalanan kebangsaan Minangkabau sekaligus menggali warisan pemikiran Bung Hatta dan Bung Karno.
“Melalui seni, musik, sastra, dokumentasi sejarah, dan refleksi kebudayaan, kita diajak untuk kembali bertanya: apa yang dapat kita teladani dari Bung Hatta dan para tokoh Minangkabau dalam membangun Indonesia,” ujar Alex.
Ia berharap momentum tersebut tidak berhenti sebagai seremoni.
Menurutnya, kegiatan semacam ini harus menjadi ruang untuk merawat ingatan, memperkuat wawasan kebangsaan dan meneruskan cita-cita para pendiri bangsa.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika sejarah mulai berhadapan dengan generasi yang memperoleh sebagian besar informasi melalui media sosial dan arus informasi yang bergerak sangat cepat.
Bonnie Triyana: “Pecah Telur” di Sumatera Barat
Ketua Badan Sejarah Indonesia DPP PDI Perjuangan Bonnie Triyana memberikan apresiasi terhadap inisiatif Alex Indra Lukman.
Menurut Bonnie, kegiatan dengan semangat memperingati dan mengenang Bung Hatta sebelumnya telah dilaksanakan oleh DPP PDI Perjuangan sejak 2020 melalui program “Pekan Bung Hatta”.
Ia menyebut penyelenggaraan kegiatan serupa di Sumatera Barat sebagai momentum penting.
“Malam ini, untuk pertama kalinya, pecah telur di Sumatera Barat,” kata Bonnie, seraya mengapresiasi dedikasi Alex Indra Lukman dalam menghadirkan kegiatan yang mengangkat sosok Bung Hatta.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peringatan Bung Hatta kali ini tidak hanya ditempatkan sebagai agenda seremonial, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menghadirkan kembali sejarah dalam ruang publik.
Halida Hatta: Bung Karno dan Bung Hatta, Dua Nama yang Tak Bisa Dipisahkan
Putri Bung Hatta, Halida Nuriah Hatta, mengingatkan bahwa Juni dan Agustus mempunyai makna khusus dalam mengenang dua Proklamator Republik Indonesia.
Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901, sementara Bung Hatta lahir pada 12 Agustus 1902.
Keduanya kemudian tercatat dalam sejarah sebagai Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia dan menjadi pasangan kepemimpinan yang dikenal sebagai Dwitunggal.
Halida menekankan bahwa warisan Bung Karno dan Bung Hatta bukan sekadar nama besar dalam sejarah.
Nilai kebangsaan yang mereka pegang, menurutnya, harus menjadi pedoman dalam membangun bangsa dan negara.
Secara historis, Bung Hatta juga tercatat sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan. Sehari setelah Proklamasi, 18 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta ditetapkan masing-masing sebagai Presiden dan Wakil Presiden pertama RI.
Keduanya kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 7 November 2012 berdasarkan Keputusan Presiden masing-masing.
Dari Surau, Sekolah hingga Pergerakan: Mengapa Minangkabau Penting Dibaca?
Ada alasan mengapa perjalanan Hatta tidak dapat dilepaskan dari konteks Minangkabau.
Tradisi pendidikan Minangkabau sejak lama memiliki akar kuat pada surau. Lembaga tersebut bukan hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan pengetahuan dan karakter. Sejumlah tokoh nasional, termasuk Hatta, disebut memiliki keterkaitan dengan tradisi pendidikan surau.
Pada awal abad ke-20, Minangkabau juga mengalami perubahan besar dalam dunia pendidikan. Sekolah modern mulai berkembang, termasuk Sekolah Adabiyah di Padang yang berdiri pada 1909, menjadi salah satu tonggak penting perkembangan pendidikan modern di wilayah tersebut.
Dari sinilah muncul sebuah konteks penting: Minangkabau tidak hanya melahirkan tokoh, tetapi juga membentuk ekosistem pemikiran yang memungkinkan lahirnya generasi intelektual.
Dan Hatta adalah salah satu hasil dari perjalanan panjang tersebut.
Pertunjukan di Ulak Karang itu pada akhirnya meninggalkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa Bung Hatta.
Jika Bung Hatta hidup di tengah Indonesia hari ini, apa yang akan ia kritik?
Bagaimana ia melihat politik? Bagaimana ia melihat pendidikan? Bagaimana ia memandang demokrasi?
Dan yang paling penting, apakah generasi Indonesia hari ini masih memiliki keberanian untuk mempertahankan prinsip ketika kepentingan pribadi dan kepentingan bangsa berada di dua sisi yang berbeda?
Hatta dikenal bukan hanya karena berdiri bersama Soekarno saat membacakan Proklamasi. Ia juga dikenang karena gagasan, disiplin, kesederhanaan dan prinsip yang ia pertahankan dalam perjalanan politiknya.
Itulah sebabnya membaca Bung Hatta tidak cukup dilakukan dengan menghafal tanggal lahir, jabatan atau foto sejarah.
Bung Hatta perlu dibaca sebagai gagasan. Dibaca sebagai keberanian. Dibaca sebagai kritik terhadap kekuasaan. Dibaca sebagai kecintaan terhadap pendidikan.
Dan dibaca sebagai pertanyaan tentang bagaimana sebuah bangsa seharusnya dibangun.
Mungkin inilah makna terdalam dari “Membaca Bung Hatta: Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau.”
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu menghafal sejarahnya.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu belajar dari sejarah sebelum mengulang kesalahan yang sama.
Dan dari tanah Minangkabau, pesan itu kembali diperdengarkan. (DaAn/Anto/Zul)
