Header Ads

  • Breaking News

    Mural Hidupkan Taman Aliran Kenangan, Budaya dan Pariwisata Padang Selatan Hadir di Ruang Publik


    PADANG (SUMBARKINI.COM) — Tembok pembatas yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari batas sebuah kawasan kini berubah menjadi ruang untuk bercerita. Di Taman Aliran Kenangan, Jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Padang Selatan, berbagai karya mural menghadirkan wajah budaya dan pariwisata Padang Selatan dalam warna dan goresan para seniman muda.

    Rangkaian kegiatan tersebut ditutup sekaligus diwarnai penyerahan hadiah kepada para pemenang Lomba Mural oleh Wali Kota Padang Fadly Amran, Sabtu (29/8/2026).

    Kegiatan yang melibatkan seniman secara individu maupun kelompok itu menjadi bagian dari upaya menghidupkan ruang publik melalui kreativitas. Tidak sekadar memperindah kawasan, mural juga menjadi media untuk memperkenalkan berbagai potensi budaya, sejarah, dan destinasi wisata yang ada di Padang Selatan.

    Sejumlah ikon daerah dituangkan dalam karya peserta, antara lain paralayang, barongsai, pacu sampan, Batu Malin Kundang, slogan Program Unggulan Padang Rancak, hingga kawasan Teluk Bayur.

    Wali Kota Padang Fadly Amran mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, ruang publik akan semakin bernilai ketika diisi dengan aktivitas yang positif dan melibatkan masyarakat.

    “Pemerintah Kota Padang sangat mengapresiasi lomba mural ini. Kegiatan ini merupakan inisiatif yang sangat baik untuk menjaga lingkungan sekaligus menghidupkan ruang publik melalui hasil seni lukis yang indah,” ujar Fadly.

    Ia juga mendorong kecamatan dan kelurahan agar terus menggali potensi wilayah masing-masing. Ruang-ruang publik, menurutnya, dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang mendukung kebersihan, kesehatan, interaksi masyarakat, sekaligus memperkuat potensi pariwisata daerah.

    “Mari kita efektifkan ruang-ruang publik dengan kegiatan positif yang melibatkan masyarakat dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan pariwisata,” katanya.

    Ketua Pelaksana Lomba Mural, Rachmat Baitul Maqdis, menjelaskan bahwa gagasan kegiatan berangkat dari keinginan mengubah fungsi tembok pembatas di Taman Aliran Kenangan.

    Tembok yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai pembatas kemudian diberikan ruang baru melalui karya seni sehingga dapat menjadi bagian dari pengalaman masyarakat ketika berada di kawasan tersebut.

    “Kami menyediakan 18 frame mural yang dikerjakan seniman secara individu maupun tim tanpa dipungut biaya,” kata Rachmat.

    Ia berharap keberadaan mural tersebut dapat berkembang menjadi spot foto, ruang interaksi warga, sekaligus mendukung pengembangan kawasan sebagai salah satu bagian dari ruang wisata di Kota Padang.

    Lebih jauh, Rachmat berharap konsep serupa dapat menginspirasi kelurahan maupun kecamatan lain untuk melihat kembali berbagai ruang yang belum termanfaatkan secara optimal.

    Harapannya sederhana: ruang yang sebelumnya biasa saja dapat diubah menjadi tempat yang lebih fungsional, menarik, dan memiliki nilai bagi masyarakat.

    Ruang Berkarya Anak Muda 

    Bagi peserta, lomba mural bukan hanya tentang memenangkan kompetisi. Ada kesempatan untuk menyalurkan kegemaran, memperkenalkan tempat yang mereka kenal, sekaligus mendapatkan pengalaman berkarya di ruang publik.

    Tommy Zulfahmi (26), salah seorang peserta, memilih Pantai Air Manis sebagai objek mural. Baginya, kawasan tersebut memiliki cerita sejarah yang kuat sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata yang dikenal masyarakat.

    “Saya memang hobi melukis dalam berbagai bentuk kesenian, yang penting positif. Untuk mural ini saya mengangkat Pantai Air Manis karena merupakan lokasi bersejarah dengan kisah Malin Kundang dan memiliki panorama yang indah,” ujarnya.

    Cerita berbeda datang dari Dara Naskhia (19). Mahasiswa Universitas Negeri Padang asal Sawahlunto itu mengikuti lomba bersama rekannya, Viona. Keduanya mengusung konsep komik dengan mengambil sejumlah destinasi di Padang Selatan sebagai sumber inspirasi.

    Bagi Dara, kesempatan tersebut memberikan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mengikuti perlombaan.

    “Kami sebagai seniman senang sekali karena diberi wadah dan diapresiasi. Semoga ke depan semakin banyak kegiatan seperti ini agar kami bisa mengembangkan bakat dan terus meningkatkan kemampuan,” tuturnya.

    Kehadiran para peserta muda memperlihatkan bahwa ruang publik dapat menjadi tempat bertemunya banyak hal: seni, sejarah, pariwisata, kreativitas, sekaligus interaksi antarmasyarakat.

    Dari 18 frame mural yang dikerjakan, setiap karya membawa perspektif berbeda tentang Padang Selatan. Ada yang bercerita melalui ikon wisata, ada yang mengangkat kebudayaan, dan ada pula yang memilih pendekatan visual yang lebih dekat dengan generasi muda.

    Pada akhirnya, mural-mural tersebut bukan hanya mempercantik tembok. Ia menjadi pengingat bahwa wajah sebuah kota juga dapat dibangun melalui cerita yang lahir dari masyarakatnya sendiri.

    Jika ruang publik dirawat, diisi dengan kreativitas, dan digunakan bersama, sebuah sudut kota yang sebelumnya mungkin dilewati begitu saja dapat berubah menjadi tempat orang berhenti, melihat, berfoto, berbincang, dan mengenal kembali daerahnya.

    Penutupan kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Padang Selatan Wilman Muchtar, Kapolsek Padang Selatan AKP Nirdes Ali, Lurah Mata Air Rio Ariesta, Ketua Pelaksana Lomba Mural Rachmat Baitul Maqdis, serta elemen masyarakat setempat. (zul/el)

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad