Jangan Sampai Amal Kita Hanya Terlihat Besar di Mata Manusia
Oleh : H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H
(Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu)
Dalam QS. Al-Kahfi Ayat 103, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Ù‚ُÙ„ْ Ù‡َÙ„ْ Ù†ُÙ†َبِّئُÙƒُÙ…ْ بِالْØ£َØ®ْسَرِينَ Ø£َعْÙ…َالًا
“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”
Ayat ini mengajak kita untuk merenungkan sesuatu yang sangat dalam: tidak semua amal yang terlihat baik di mata manusia otomatis bernilai baik di sisi Allah.
Dalam pandangan tasawuf, persoalan amal bukan hanya tentang apa yang kita kerjakan, tetapi juga tentang siapa yang kita tuju ketika mengerjakannya.
Seseorang mungkin banyak beribadah, banyak bersedekah, banyak berbicara tentang agama, bahkan terlihat sengat saleh di hadapan manusia. Namun, hati manusia tidak selalu diketahui oleh manusia lainnya. Bisa jadi di balik amal tersebut terdapat keinginan untuk dipuji, ingin dianggap alim, ingin dihormati, atau ingin mendapatkan kedudukan.
Di sinilah tasawuf mengajarkan kita tentang tazkiyatun nafs, yaitu membersihkan jiwa.
Penyakit hati seperti riya, ujub, dan merasa diri paling baik, sangat halus. Kadang kita tidak menyadarinya.
Kita beribadah, lalu merasa lebih baik daripada orang yang belum melakukannya.
Kita melakukan kebaikan, tetapi hati kita menunggu pujian.
Padahal, semakin dekat seorang hamba kepada Allah, seharusnya semakin rendah hatinya.
Tasawuf bukan berarti meninggalkan dunia dan berhenti beramal. Justru tasawuf mengajarkan agar amal lahir dibarengi dengan kebersihan batin.
Kita bekerja, tetapi hati bergantung kepada Allah.
Kita bersedekah, tetapi tidak merasa memiliki jasa.
Kita beribadah, tetapi tidak merasa paling suci.
Kita melakukan kebaikan, tetapi menyerahkan penilaiannya kepada Allah.
Karena manusia hanya melihat apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.
Maka QS. Al-Kahfi ayat 103 menjadi sebuah peringatan bagi kita: jangan sampai kita sibuk menghitung banyaknya Amal, tetapi lupa memeriksa keadaan hati.
Bukan hanya bertanya, "sudah berapa banyak amal yang saya lakukan?"
Tetapi tanya juga:
"Untuk siapa saya melakukan amal ini?"
"Apakah saya mencari ridha Allah atau mencari pengakuan manusia?"
"Apakah setelah beramal saya semakin rendah hati atau semakin merasa lebih tinggi?"
Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya, ujub, sombong, dan segala penyakit hati. Semoga amal-amal kecil kita diterima oleh Allah, semoga kita tidak termasuk orang yang merasa telah banyak berbuat baik tetapi ternyata kehilangan nilai amal tersebut karena kesalahan hati.
Mari kita beramal dengan ikhlas, memperbaiki hati, dan terus mendekat kepada Allah.
Salam
LH
